Stadion of Light kini benar-benar menjelma menjadi salah satu tempat tersulit bagi tim tamu di Premier League. Arsenal harus merelakan catatan sempurna mereka terhenti setelah ditahan imbang 2-2 oleh Sunderland pada Sabtu malam.
Setelah mencatat 10 kemenangan beruntun di awal musim, ini menjadi poin pertama yang hilang bagi pasukan Mikel Arteta. Sementara itu, Sunderland terus menunjukkan semangat luar biasa dengan gol penyeimbang di menit akhir yang kembali membuat publik tuan rumah bergemuruh.
Gol akrobatik Brian Brobbey di menit ke-94 membuat atap Stadion of Light serasa akan roboh. Aksi dramatis di masa tambahan waktu seolah menjadi ciri khas Sunderland musim ini — mereka sudah mencetak lima gol setelah menit ke-90, terbanyak di Premier League sejauh ini.
Tak hanya itu, Sunderland juga menjadi satu dari tiga tim yang belum pernah kebobolan setelah menit ke-90, bersama Everton dan Aston Villa. Tim promosi ini benar-benar menolak menyerah hingga peluit akhir, dan dengan performa luar biasa Daniel Ballard, hal itu sepenuhnya masuk akal.
Baca Juga: Erling Haaland Memimpin Perebutan Sepatu Emas Premier League 2025/26
Daniel Ballard: Sang Pahlawan dari Akademi Arsenal
Pemain asal Irlandia Utara itu tampil luar biasa — mencetak satu gol, satu assist, dan melakukan penyelamatan krusial di garis gawang pada menit akhir. Penampilan yang sempurna untuk seorang bek tengah dan menjadi mimpi yang terwujud bagi mantan pemain akademi Arsenal itu.
Sunderland sendiri tampil jauh dari tipikal tim promosi. Mereka kini bersaing memperebutkan tiket ke kompetisi Eropa, dan berpotensi menjadi tim promosi pertama yang finis di paruh atas klasemen sejak Leeds United pada musim 2020/21.
Arsenal Kehilangan Ketajaman Tanpa Gyokeres
Absennya Viktor Gyokeres terasa sangat signifikan. Arsenal kesulitan menembus pertahanan rapat Sunderland, meski Bukayo Saka dan Leandro Trossard sempat menunjukkan momen-momen brilian.
Arsenal sempat unggul berkat gol jarak jauh Trossard di menit ke-74, tendangan keras yang tak mampu dihalau kiper Robin Roefs. Namun secara keseluruhan, peluang The Gunners tergolong minim dan sebagian besar datang dari area berisiko rendah.
Menurut data xG (expected goals), Arsenal menciptakan 2,07 peluang gol, namun mayoritas berasal hanya dari dua momen berbahaya di akhir laga lewat Mikel Merino dan Riccardo Calafiori.
Sunderland justru lebih efektif dalam mengatur zona tembakan lawan, memaksa Arsenal menembak dari jarak jauh dan sudut sempit. Strategi disiplin inilah yang membuat tim asuhan Arteta harus puas dengan hasil imbang.
Baca Juga: Tottenham vs Man United Berakhir Imbang, De Ligt Selamatkan Poin Setan Merah
Persaingan Gelar Kembali Memanas
Dengan hasil ini, Arsenal masih memimpin klasemen sementara Premier League dengan selisih tujuh poin. Namun, laga antara Liverpool dan Manchester City pada Minggu malam akan sangat menentukan arah persaingan gelar.
Jika City menang, jarak akan terpangkas menjadi empat poin, sementara kemenangan Liverpool akan memperkecil selisih menjadi lima poin saja. Artinya, persaingan untuk merebut trofi kembali terbuka lebar.
Musim lalu, Arteta sempat menempatkan Mikel Merino sebagai striker darurat saat krisis penyerang melanda timnya — dan laga ini kembali mengingatkan betapa sulitnya bertahan dalam kondisi itu.
Dengan Kai Havertz, Gabriel Jesus, dan Gyokeres masih absen, Arsenal benar-benar membutuhkan kehadiran striker murni untuk menjaga ambisi juara mereka. Untungnya, Gyokeres diperkirakan akan kembali usai jeda internasional.
Sunderland: Dari Tim Promosi ke Calon Penantang Eropa
Sunderland kini bukan lagi tim promosi yang hanya berjuang untuk bertahan. Mereka menampilkan karakter tim besar dengan semangat pantang menyerah, efisiensi di menit akhir, dan dukungan luar biasa dari suporter.
Jika performa ini berlanjut, bukan hal mustahil bagi Sunderland untuk mengejutkan Premier League dan finis di zona kompetisi Eropa. Gol-gol dramatis mereka di masa tambahan waktu sudah menjadi bukti bahwa klub ini kembali hidup — dan Stadion of Light kembali menjadi tempat yang menakutkan bagi siapa pun yang datang.
Penulis: Romi Agustian | Editor: Felix Wijaya




