London – Asisten pelatih kepala tim nasional Inggris, Anthony Barry, menegaskan bahwa kunci untuk meraih kesuksesan di Piala Dunia 2026 bukan sekadar taktik atau kumpulan bintang, melainkan rasa kebersamaan dan persaudaraan di dalam tim.
Barry, yang kini menjadi tangan kanan Thomas Tuchel di skuad “Three Lions”, menilai bahwa membangun semangat tim dan koneksi emosional antar pemain jauh lebih penting dibanding mencoba meniru gaya bermain klub besar seperti Barcelona atau Manchester City.
“Misi kami jelas — mencoba meraih bintang kedua. Memenangkan Piala Dunia untuk Inggris,” ujar Barry kepada sejumlah wartawan di St. George’s Park.
“Tapi di balik itu semua, kami ingin membangun Team England. Sepak bola internasional adalah tentang koneksi — antara pemain, misi, dan cara bermain. Jika kita bisa menciptakan ‘persaudaraan’ yang menyatu dengan semangat bangsa, peluang itu selalu ada.”
Bangun Identitas, Bukan Hanya Formasi
Barry menekankan bahwa tidak ada tim nasional yang bisa bermain seperti klub besar dengan sistem dan waktu latihan rutin setiap minggu. Karena itu, yang terpenting bagi Inggris adalah membangun identitas dan ikatan batin antar pemain.
“Kamu tidak bisa menciptakan tim nasional yang bermain seperti Barcelona dulu atau Manchester City sekarang — itu mustahil,” kata pelatih berusia 39 tahun itu.
“Tapi kamu bisa menciptakan energi, semangat, dan hubungan yang kuat di antara pemain. Itulah bahan bakar utama sepak bola internasional.”
Barry menambahkan bahwa setiap pemain harus merasa bangga sekaligus nyaman saat mengenakan jersey Inggris.
“Seragam Inggris harus semakin sulit untuk didapat, tapi ringan saat dipakai,” ujarnya.
“Agar terasa ringan, kami harus memberikan gaya bermain yang membuat mereka bebas bergerak, berpikir cepat, dan menikmati permainan. Jersey itu seharusnya terasa seperti cape superhero, bukan baju zirah berat.”
Tuchel Tak Ragu Coret Pemain Bintang
Kebijakan Thomas Tuchel dalam pemilihan pemain turut mencerminkan visi tersebut. Pelatih asal Jerman itu tak segan meninggalkan nama-nama besar seperti Jude Bellingham dan Phil Foden dalam dua pemanggilan pertama musim ini, sebelum akhirnya kembali memasukkan keduanya untuk kualifikasi terakhir Piala Dunia melawan Serbia dan Albania pekan depan.
Baca Juga: Lionel Messi vs Cristiano Ronaldo di Piala Dunia: Siapa yang Lebih Hebat?
Tuchel memiliki banyak opsi di lini serang, termasuk Cole Palmer, Morgan Rogers, dan Eberechi Eze. Namun bagi Barry, kunci sukses bukan soal siapa yang paling populer, melainkan siapa yang paling bisa menyatu di lapangan.
“Apa itu sebelas terbaik? Apakah berarti pemain paling berbakat, atau paling terkenal?” kata Barry.
“Kalau kamu membentuk sebuah band dan menaruh 11 penyanyi utama di atas panggung, apakah hasilnya musik terbaik? Tentu tidak. Kamu butuh drummer, gitaris, dan backing vocal. Begitu juga dalam sepak bola — kamu butuh keseimbangan.”
Chemistry dan Peran Setiap Pemain
Barry juga menekankan pentingnya chemistry antar pemain, bukan sekadar kemampuan individu.
“Tim yang hebat bukan hanya terdiri dari pemain terbaik, tapi dari mereka yang bisa membuat satu sama lain tampil lebih baik,” jelasnya.
“Setiap pemain punya peran masing-masing. Sebuah tim memenangkan gelar, bukan sebelas bintang di atas kertas.”
Dengan pendekatan berbasis koneksi dan semangat kolektif, Inggris berharap bisa mengakhiri penantian panjang sejak 1966 — saat terakhir kali mereka mengangkat trofi Piala Dunia.
Penulis: Erick Widodo | Editor: Edy Putra




