Setelah bertahun-tahun berseteru dalam ruang sidang dan gagal mencapai kompromi, Real Madrid bersama A22 Sports Management — pihak yang berada di balik proyek Liga Super Eropa — akhirnya mengambil langkah besar. Mereka menyiapkan gugatan senilai €4,5 miliar terhadap UEFA, menuduh badan sepak bola Eropa itu menyalahgunakan kekuasaan dan memblokir persaingan yang adil di dunia sepak bola.
Real Madrid Ambil Jalur Hukum
Menurut laporan media Spanyol AS, nilai gugatan tersebut mencakup kerugian finansial, reputasi, serta peluang bisnis yang hilang akibat tindakan UEFA. Gugatan itu muncul tak lama setelah pengadilan di Madrid memutuskan bahwa UEFA telah melanggar prinsip persaingan bebas Uni Eropa, membuka jalan bagi langkah hukum besar yang kini ditempuh Real Madrid.
Florentino Pérez, presiden Real Madrid, disebut melihat putusan tersebut sebagai momen yang ditunggu-tunggu. Ia menilai dominasi UEFA telah menghambat inovasi dan merugikan klub besar Eropa yang ingin mandiri secara finansial.
Akar Konflik: Liga Super Eropa 2021
Perseteruan panjang ini bermula pada April 2021, ketika 12 klub elit — termasuk Madrid, Barcelona, dan Juventus — memperkenalkan proyek Liga Super Eropa. Kompetisi ini digadang-gadang sebagai rival Liga Champions dengan sistem yang lebih menguntungkan bagi klub peserta.
Namun, proyek tersebut hanya bertahan kurang dari dua hari. Gelombang protes dari suporter, ancaman sanksi dari UEFA dan FIFA, serta tekanan politik membuat mayoritas klub mundur. Hanya Madrid, Barcelona, dan Juventus yang tetap bersikeras mempertahankan ide tersebut.
Pérez menegaskan bahwa UEFA selama ini beroperasi layaknya “monopoli yang mengekang kebebasan kompetisi”. Ia menilai Liga Super adalah cara baru untuk menciptakan sistem yang lebih transparan dan berorientasi pada klub.
Putusan Pengadilan Beri Angin Segar
Desember 2023 menjadi titik balik penting. Pengadilan Uni Eropa (CJEU) menyatakan bahwa UEFA tidak berhak memblokir kompetisi baru tanpa dasar hukum yang jelas, karena tindakan itu bertentangan dengan regulasi antimonopoli Uni Eropa.
Keputusan tersebut kemudian diperkuat oleh pengadilan provinsi Madrid, yang menegaskan bahwa UEFA telah menyalahgunakan posisi dominannya. Sejak itu, Real Madrid dan A22 mulai menyiapkan gugatan ganti rugi besar yang kini mencapai €4,5 miliar — nilai yang bisa menjadi terbesar dalam sejarah sepak bola modern.
Negosiasi yang Kembali Buntu
Setelah putusan CJEU, kedua belah pihak sempat mencoba berdialog. Beberapa pertemuan digelar antara A22, perwakilan Real Madrid, Barcelona, dan UEFA. Namun, menurut sumber internal, pembicaraan berjalan tanpa hasil. UEFA dituduh menunda-nunda pembahasan dan tidak menunjukkan itikad baik untuk mencapai kesepakatan.
Presiden Barcelona, Joan Laporta, sempat berusaha menjembatani hubungan dengan UEFA, bahkan menghadiri pertemuan dengan Presiden PSG Nasser Al-Khelaifi dan Presiden UEFA Aleksander Čeferin. Namun, Real Madrid menolak melembek dan bersikeras melanjutkan langkah hukum.
Taruhan Besar untuk Masa Depan Sepak Bola
Gugatan ini bukan hanya soal uang, tetapi juga soal siapa yang akan mengendalikan masa depan sepak bola Eropa. Real Madrid berpendapat bahwa sistem UEFA terlalu sentralistik dan tidak memberi ruang bagi klub-klub besar untuk mengelola hak siar serta pendapatan secara mandiri.
UEFA di sisi lain tetap kukuh. Dalam pernyataannya, badan tersebut menegaskan bahwa aturan baru yang diperbarui pada 2024 masih sah dan berlaku penuh. UEFA juga menyatakan siap melawan gugatan Madrid di pengadilan dan menegaskan bahwa keputusan CJEU “tidak mengesahkan Liga Super Eropa”.
Namun, jika Real Madrid menang dalam gugatan ini, dampaknya bisa sangat besar. Klub-klub lain mungkin akan mengajukan klaim serupa, dan kekuasaan UEFA atas kompetisi Eropa bisa goyah — membuka era baru bagi tata kelola sepak bola benua biru.




